Bengkulu – Bokir,id.- Maskapai nasional Garuda Indonesia resmi menghentikan operasional penerbangan rute Bengkulu–Jakarta pada Sabtu, 28 Maret 2026. Penerbangan terakhir dari Bandara Fatmawati Soekarno menjadi penutup layanan yang telah bertahun-tahun menghubungkan masyarakat Bengkulu dengan ibu kota.
Momen perpisahan tersebut berlangsung penuh haru. Sejumlah penumpang dan masyarakat mengabadikan detik-detik keberangkatan terakhir melalui media sosial. Tidak sedikit yang menyampaikan rasa terima kasih atas layanan Garuda Indonesia yang selama ini dinilai nyaman dan aman,(2/4/2026).
Rute Bengkulu–Jakarta selama ini menjadi salah satu jalur vital bagi masyarakat, khususnya untuk keperluan bisnis, pendidikan, hingga perjalanan keluarga. Penghentian rute ini pun memunculkan berbagai pertanyaan terkait aksesibilitas transportasi udara dari dan menuju Bengkulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak Garuda Indonesia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah penyesuaian operasional perusahaan. Keputusan diambil setelah melalui evaluasi menyeluruh, termasuk mempertimbangkan tingkat keterisian penumpang yang belum memenuhi target keberlanjutan bisnis.
General Manager Garuda Indonesia perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, mengungkapkan bahwa rata-rata okupansi penumpang pada rute tersebut berada di kisaran 80 persen dari total kapasitas. Meski tergolong tinggi, angka tersebut dinilai belum cukup untuk menopang efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek bisnis secara menyeluruh. Sebelumnya juga telah dilakukan pertemuan antara Gubernur Bengkulu dengan manajemen Garuda di Jakarta untuk membahas persoalan ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihak maskapai menyebutkan bahwa sebelum kebijakan diberlakukan, telah dilakukan pembahasan dengan pemerintah daerah guna mencari solusi terbaik. Namun, penghentian operasional tetap menjadi langkah yang dianggap paling realistis di tengah dinamika industri penerbangan nasional.
Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah menerima penjelasan terkait keputusan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama berasal dari persoalan internal maskapai, yang berada di luar kewenangan pemerintah daerah.
Meski demikian, Helmi menyayangkan minimnya komunikasi dari pihak maskapai sebelum keputusan final diambil. Menurutnya, pemerintah daerah sebenarnya siap membantu mencarikan solusi apabila permasalahan berkaitan dengan jumlah penumpang.
“Jika komunikasi dilakukan lebih awal, berbagai langkah strategis bisa disiapkan bersama,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap ke depan akan terjalin koordinasi yang lebih baik antara maskapai dan pemerintah daerah. Hal ini dinilai penting mengingat transportasi udara merupakan salah satu penunjang utama mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Penghentian rute ini diharapkan tidak berlangsung permanen, dan membuka peluang bagi hadirnya solusi atau alternatif layanan penerbangan yang tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bengkulu.













