KARAWANG – Bokir, id.- Lima tahun perjalanan Gerakan Militansi Pejuang Indonesia (GMPI) tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan, dinamika internal, konflik di lapangan hingga persoalan hukum menjadi bagian dari perjalanan organisasi kemasyarakatan tersebut.
Namun, berbagai dinamika itu justru menjadi modal evaluasi untuk memasuki babak baru.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kongres II sekaligus peringatan Anniversary ke-5 GMPI yang digelar di Kabupaten Karawang, Rabu (12/8/2026). Mengusung tema “Berdiri Teguh dan Terus Bertumbuh”, kongres menjadi momentum konsolidasi sekaligus penegasan arah transformasi organisasi untuk lima tahun ke depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kongres II dipusatkan di Brits Hotel Karawang dan dihadiri Ketua Umum DPP GMPI H.M. Dewasena, Dewan Pendiri Pipik Taufik Ismail atau Kang Pipik, Direktur LBH GMPI, serta jajaran pengurus DPW, DPD, dan DPC GMPI dari berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, puncak Anniversary ke-5 GMPI dilaksanakan di kawasan Karangpawitan 2, Karawang.
Lima Tahun Menjadi Ujian Kedewasaan Organisasi
Ketua Umum DPP GMPI, H.M. Dewasena, mengatakan perjalanan lima tahun pertama merupakan proses panjang untuk menguji ketahanan sekaligus kedewasaan organisasi.
Menurutnya, perbedaan karakter, cara pandang, dan kepentingan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam sebuah organisasi yang berkembang.
“Melampaui waktu yang begitu panjang, artinya saya tidak bosan melihat saudara. Salah satu pencapaian dan kesuksesan organisasi adalah mempertahankan keluarga. Apabila ada konflik, itu merupakan langkah kedewasaan,” ujar Dewasena.
Ia menegaskan, kekuatan utama GMPI bukan semata-mata terletak pada jumlah anggota, melainkan kemampuan seluruh kader menjaga persaudaraan dan tetap mempertahankan soliditas organisasi di tengah berbagai persoalan.
“Saya sangat bangga. Di balik adanya konflik keluarga, intinya kita semakin keren, semakin kuat dalam mempertahankan keluarga kita ini. Itu yang termahal di rumah GMPI ini. Berada di GMPI merupakan nilai yang istimewa,” tegasnya.
Dewan Pendiri Dorong Kader Naik Kelas
Sementara itu, Dewan Pendiri GMPI, Pipik Taufik Ismail atau yang akrab disapa Kang Pipik, memberikan pesan lebih jauh mengenai arah organisasi setelah memasuki usia lima tahun.
Ia menilai GMPI telah melewati berbagai dinamika yang tidak ringan. Dalam proses tersebut, menurutnya, Ketua Umum bersama jajaran pengurus telah banyak bekerja untuk menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus menjaga marwah organisasi.
Karena itu, momentum Kongres II dinilai harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan mempersiapkan organisasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
“Dalam Kongres II ini, kita mau dibawa ke mana? Artinya, kita membutuhkan kesiapan, mulai dari Sekjen dan seluruh perangkat organisasi,” ujar Kang Pipik.
Ia juga mendorong seluruh kader mengubah cara pandang mengenai makna militansi. Menurutnya, keberanian dan militansi tidak lagi cukup ditunjukkan melalui kekuatan fisik, tetapi harus diwujudkan melalui kemampuan berpikir, membangun jaringan, berkolaborasi, serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Kita merubah yang dulu kita hanya berpikir dengan adu fisik. Saat ini kita harus berpikir bagaimana bisa berkolaborasi dan melakukan ekspansi,” katanya.
Dari Adu Fisik ke Adu Gagasan
Pesan tersebut menjadi salah satu penegasan penting dalam Kongres II GMPI.
Organisasi dituntut tidak berhenti pada kekuatan massa, tetapi mulai memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan kemampuan kader dalam memahami berbagai persoalan sosial, pemerintahan, serta kebijakan publik.
Kang Pipik menekankan bahwa peningkatan kapasitas dan keilmuan menjadi fondasi penting sebelum GMPI mengambil peran lebih jauh dalam mengawal berbagai kebijakan pemerintah.
“Di kongres ini saya titip, kita duduk kembali. Kita harus upgrade diri kita. Kalau diperlukan kita menganalisa dan mengoreksi pemerintah, tetapi upgrade dulu kemampuan kita, keilmuan kita,” tegasnya.
Ia juga menyebut pendidikan politik sebagai salah satu bagian yang perlu diperkuat dalam perjalanan GMPI ke depan.
Dengan demikian, militansi yang selama ini menjadi identitas organisasi diharapkan mengalami transformasi. Bukan kehilangan keberanian, melainkan mengubah keberanian menjadi energi positif untuk membangun gagasan, memperluas kolaborasi, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Memasuki Babak Baru
Kongres II sekaligus Anniversary ke-5 GMPI akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Forum tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan lima tahun pertama sekaligus pijakan untuk menentukan arah lima tahun berikutnya.
Jika lima tahun pertama merupakan fase membangun fondasi dan bertahan melewati berbagai dinamika, maka lima tahun kedua menjadi fase pembuktian.
Tantangannya adalah bagaimana GMPI mampu membuktikan bahwa militansi dapat berjalan seiring dengan kecerdasan, profesionalisme, kemampuan berorganisasi, serta keberanian menyampaikan gagasan.
Transformasi dari “adu fisik” menuju “adu gagasan” menjadi pesan kuat yang mewarnai Kongres II GMPI di Karawang.
Kini, pekerjaan rumah organisasi bukan hanya mempertahankan eksistensi, tetapi memastikan setiap kader memiliki kapasitas untuk membawa GMPI menjadi organisasi yang semakin matang, produktif, dan mampu memberikan kontribusi nyata.
Lima tahun pertama telah menjadi sejarah.
Lima tahun berikutnya akan menjadi pembuktian.
Setia Bersaudara Sampai Urat Nadi.
(Fitri/Mpit).










