BONE – Bokir , id.- (20/7/2026)Transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern dan berdaya saing terus didorong melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah. Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggandeng Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Barebbo untuk memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan Garisi’ Mannennungeng di Balai Desa Kajaolaliddong, Minggu (19/7/2026).
Program tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkenalkan sistem budidaya pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus selaras dengan kebijakan modernisasi pertanian yang tengah dijalankan Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Pelatihan diikuti oleh ketua kelompok tani, petani, dan masyarakat setempat. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai teknologi budidaya modern, pola tanam adaptif, penggunaan varietas unggul, hingga strategi meningkatkan produktivitas dan menekan risiko gagal panen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator BPP Kecamatan Barebbo, Yusuf Latief, S.P., menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan inovasi pertanian hasil pengembangan teknologi budidaya yang diadaptasi dari sistem tanam Arkansas, Amerika Serikat, kemudian disesuaikan dengan kondisi lahan dan iklim Indonesia.
Menurutnya, metode tersebut mengombinasikan sistem tanam Arkansas dengan pola jajar legowo sehingga mampu meningkatkan populasi tanaman secara signifikan. Jika pola tanam konvensional hanya menghasilkan sekitar 320 hingga 350 ribu rumpun per hektare, PM-AAS mampu meningkatkan populasi tanaman hingga mencapai 800 ribu sampai satu juta rumpun per hektare.
“Hasil uji coba menunjukkan produktivitas mampu mencapai 9 hingga 12 ton gabah per hektare. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas nasional yang masih berada di kisaran 5,5 ton per hektare. Karena itu, kami siap mendampingi petani agar mampu mengimplementasikan metode ini secara optimal,” ujar Yusuf.
Ia menilai konsep Garisi’ Mannennungeng yang dikembangkan mahasiswa Universitas Hasanuddin memiliki arah yang sama dengan PM-AAS karena sama-sama menitikberatkan pada inovasi, efisiensi, dan peningkatan produktivitas berbasis teknologi.
“Pendekatan pola tanam adaptif dan penggunaan varietas unggul dalam Garisi’ Mannennungeng menjadi pelengkap yang sangat baik bagi implementasi PM-AAS. Kolaborasi seperti ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan pertanian yang lebih maju, efisien, dan mampu bersaing,” katanya.
Ketua Umum UKM KPI Universitas Hasanuddin, Aydil Fitra Mulya, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen mahasiswa dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya sektor pertanian.
Menurutnya, sinergi dengan penyuluh pertanian menjadi kunci agar inovasi yang dikembangkan mahasiswa tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan dapat diterapkan langsung oleh petani.
“Kami ingin memastikan petani memperoleh informasi yang benar langsung dari narasumber yang berkompeten.
Melalui kolaborasi ini, program mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., menegaskan bahwa Garisi’ Mannennungeng dirancang sebagai program pemberdayaan petani berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia juga menyoroti kapasitas narasumber yang dinilai memiliki rekam jejak membanggakan di bidang pertanian.
“Pak Yusuf Latief baru saja meraih Juara I Cerdas Cermat pada Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Prestasi tersebut menjadi bukti kompetensi beliau dalam penguasaan teknologi pertanian modern sehingga sangat tepat membimbing petani dalam menerapkan metode budidaya yang lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.
Program Garisi’ Mannennungeng merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Smart Hydro Loop yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin. Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas petani melalui penerapan pola tanam adaptif, rotasi varietas padi, serta pemanfaatan inovasi pertanian modern guna menghadapi tantangan perubahan iklim dan ancaman gagal panen.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, penyuluh pertanian, pemerintah, dan kelompok tani, diharapkan metode PM-AAS dapat diterapkan secara lebih luas sehingga mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.










